
Mengirimkan follow up email setelah meeting dengan prospek adalah hal krusial yang sering kali terlewat oleh banyak sales profesional. Salah satu penyebabnya adalah kesalahpahaman bahwa ketika prospek tidak menghubungi mereka lagi, artinya prospek tidak tertarik dengan penawaran yang diberikan.
Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Banyak prospek membutuhkan waktu untuk mempertimbangkan keputusan, berdiskusi dengan tim internal, atau sekadar sibuk dengan prioritas lainnya. Terlebih, studi menunjukkan bahwa 80% penjualan justru berhasil dilakukan setelah 5 kali follow up dilakukan.
Oleh karena itu, penting untuk proaktif pada prospek Anda, salah satunya dengan melakukan follow up via email setelah melakukan pertemuan untuk menjaga hubungan sekaligus mendorong proses penjualan ke tahap berikutnya.
Berikut ini adalah 5 tips membuat follow up email untuk prospek setelah meeting.
Timing dalam pengiriman email follow-up sangatlah penting. Idealnya, email dikirimkan dalam waktu 24 jam setelah meeting selesai.
Dengan melakukan follow-up lebih cepat, konteks percakapan masih segar dalam ingatan prospek. Selain itu, Anda juga dapat menjaga momentum diskusi sebelum prospek kembali sibuk dengan prioritas pekerjaan lainnya.
Follow-up yang cepat juga membantu Anda terlihat lebih profesional dan menunjukkan keseriusan dalam menindaklanjuti kebutuhan prospek.
Subject email adalah hal pertama yang dilihat oleh prospek di inbox mereka. Hindari subject yang terlalu umum seperti “Follow Up Meeting” karena mudah terlewat di antara banyak email lain.
Sebaliknya, gunakan subject yang lebih spesifik dan menggambarkan isi email, misalnya:
Subject yang jelas membantu prospek langsung memahami konteks email Anda tanpa harus membukanya terlebih dahulu.
Follow up email yang efektif sebaiknya tidak terasa seperti template massal. Tambahkan sentuhan personal dengan menyebutkan detail dari percakapan yang terjadi saat meeting.
Beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain:
Misalnya: “Terima kasih atas waktu yang Bapak/Ibu luangkan kemarin. Insight mengenai tantangan tim sales dalam memonitor kualitas percakapan dengan pelanggan sangat menarik untuk kami diskusikan lebih lanjut.”
Sentuhan personal seperti ini menunjukkan bahwa Anda benar-benar memperhatikan percakapan yang terjadi.
Kesalahan yang sering terjadi dalam follow-up email adalah hanya menanyakan keputusan dari prospek, seperti “Apakah sudah ada update?” atau “Bagaimana keputusan Anda?”
Sebaliknya, gunakan email follow-up sebagai kesempatan untuk memberikan nilai tambahan kepada prospek. Misalnya dengan:
Pendekatan ini membuat email Anda terasa lebih membantu, bukan sekadar mengingatkan prospek untuk merespons.
Prospek biasanya memiliki waktu yang terbatas, sehingga email follow-up sebaiknya dibuat singkat, jelas, dan mudah dipahami.
Anda bisa menggunakan struktur sederhana seperti berikut:
Struktur seperti ini membantu prospek memahami isi email dengan cepat dan memudahkan mereka untuk merespons.
Dalam praktiknya, banyak sales profesional melewatkan follow-up karena padatnya aktivitas, mulai dari meeting, panggilan dengan pelanggan, hingga perjalanan bisnis.
Untuk mengatasi hal tersebut, Anda dapat memanfaatkan teknologi AI seperti Copilot di MiiTel.
Fitur Copilot memungkinkan sales untuk secara otomatis menghasilkan draft follow-up email berdasarkan percakapan yang terjadi dalam:
AI akan menganalisis percakapan tersebut dan membuat ringkasan diskusi, poin penting, serta rekomendasi langkah selanjutnya yang bisa langsung digunakan sebagai email follow-up.
Dengan cara ini, sales hanya perlu meninjau dan menyesuaikan draft tersebut sebelum mengirimkannya kepada prospek, sehingga proses follow-up menjadi lebih cepat dan konsisten.
Ingin mengeksplorasi solusi Copilot MiiTel untuk tim bisnis Anda? Isi data diri Anda pada form di bawah ini untuk konsultasi dan demo gratis!